Tag: Jakarta

Sekelumit babak baru perpolitikan di Indonesia

Sekelumit babak baru perpolitikan di Indonesia

Setahun lebih di dunia maya, semacam Facebook maupun Twitter kita diberi tontonan yang kadang konyol nan norak oleh dua kubu antara pendukung garis keras Prabowo dan barisan pendukung Jokowi. Hingga kini masih berlangsung adu hantam, caci mencaci, tebar fitnah dan lain sebaginya. Entah kapan Continue reading “Sekelumit babak baru perpolitikan di Indonesia”

Advertisements

Menulislah

Minggu, 23 Februari 2014

Kemarin dari pagi Jakarta diguyur hujan dari pagi sampai sore, untungnya aku sabtu dan minggu libur kerja. Hujan kemarin tak terlalu besar, tapi awetnya seperti seorang kekasih yang LDR menunggu telepon dari pacarnya. Akhir-akhir ini hujannya tak sepadat hujan bulan Januari kemarin, tapi was-was juga kalo smapai banjir kayak yang sudah-sudah. Kegiatanku pagi kemarin dan hari ini seperti liburan sebelumnya, tiduran di kamar sampai tertidur. Apalagi ditambah lagi di luar hujan, menambah malesnya meninggalkan kasurku ini.

Berasa tak berguna juga liburanku tak ada yang bermanfaat, tapi apa di kata sudah capek kerja selama lima hari dalam seminggu dari pagi sampai malam. Kemarin aku baru saja download film GIE, yah cerita kehidupan Soe Hok Gie. Seorang mahasiswa yang dari bangku Sekolah Dasar selalu menulis kegiatannya di buku Diary. Hampir tiap hari dia nulisnya sampai Gie meninggal di Gunung Semeru. Soe Hok Gie, yang sangat rajin menulis setiap malam dari masalah teman sekelas, guru di sekolahnya, percintaan hingga pandangan politiknya. sebelum menonton film itu aku udah baca bukunya, yang berjudul “Catatan Seorang Demonstran”. Soe Hok Gie sering dipanggil Soe (Su) atau Gie (Gi) adalah mahasiswa jurusan sastra di Universitas Indonesia. Gie menulis buku Diary-nya hampir tiap hari, tulisannya yang tajam dan cerdas membuat kagum banyak orang. Mungkin anak seumurunku, atau yang lahir di tahun ’90an banyak yang tak mengenal siapa itu Soe Hok Gie atau aku yang ketinggalan? entahlah. Intinya aku pengen seperti Gie yang rajin menulis setiap hari walaupun beberapa kalimat, sampai aku tiada. Seperti kata Pram, “Menulislah. Selama engkau tidak menulis, engkau akan hilang dari dalam masyarakat dan dari pusaran sejarah”

selamat menulis dan jangan remehkan tulisan.

Jangan lupa rokok dan kopinya. 🙂

Robit Mikrojul Huda.