Prison songs, Nyanyian yang dibungkam

Prison songs, Nyanyian yang dibungkam

Jumat malam 21/08 Goethe Institut – Goethehaus Menteng, Jakarta Pusat ramai sekali. Di Goethehaus sedang mengadakan sebuah launching Album buku yang berjudul “Prison Songs – Nyanyian yang dibungkam”.  Album buku tersebut berisikan lagu-lagu yang diciptakan oleh mantan tahanan politik ’65 ketika masih dipenjara.

Saya datang agak telat, dikarenakan jalanan sore itu macet sekali. Saya datang setelah pulang kerja dan langsung menuju ke lokasi. Pelataran Goethehaus sudah penuh dengan kendaraan yang diparkir. Menuju ke dalam, saya sudah tidak kebagian tempat. Pada awalnya saya masih menunggu dekat pintu, menanti jika ada salah satu penonton yang di dalam keluar dan saya segera masuk. Tak membutuhkan waktu lama, sekita jam 20 saya sudah memasuki ruangan. Perlu diketahui acara dimulai pukul 19.

Pengisi acara malam itu sudah tak asing lagi bagi saya. Diantaranya JRX (SID), Dadang “Dankie” Pranoto (Navicula/Dialog Dini Hari), Fajar Merah (Putra Wiji Thukul – aktivis yang hilang pada 1998), Guna Warma dan Man Angga (Nosstress), Banda Neira, Made Mawut dan masih banyak lagi.

Acara dimulai dengan paduan suara Dialita, yang beranggotakan ibu-ibu penyintas korban kemanusiaan 1965. Kemudian dilanjut dengan Dadang yang membawakan lagu berjudul Sekeping Kenangan. Lalu kolaborasi JRX, Dadang, Man Angga, dan lainnya membawakan lagu Di Kala Sepi Mendamba.

Lantas Man Angga membawakan lagu Si Buyung, Banda Neira dengan Tini dan Yanti. Dan beberapa lagu lagi yang dinyanyikan musisi-musisi muda tanah air, khususnya Bali. Acara malam itu, diselingi video dokumenter kisah-kisah pahit kehidupan penjara tahanan politik 1965.

Lauching album buku ditutup dengan penampilan Fajar Merah, dan seorang anak kecil yang membacakan puisi karya Wiji Thukul yang berjudul “anak-anak” puisi tersebut didedikasikan untuk anak-anak Kampung Pulo. Kemudian Fajar Merah menutup acara konser itu dengan musikalisasi puisi karya Ayahnya yang berjudul Bunga dan Tembok.

Acara malam itu sukses besar. Penonton membludak dari berbagai kalangan, seniman, anak muda, pekerja, aktivis, dan mahasiswa.

Saya kutip dari kompas.com “Proyek ini bisa jadi pengingat tentang sejarah yang benar. Kita bisa mempelajari sesuatu dari sini dan bisa menyuarakannya ke masyarakat yang lebih luas untuk melawan lupa atas pelanggaran HAM,” ujar Angga.

catatan : Dokumentasi foto diprotet oleh saya sendiri.

Fajar Merah membawakan musikalisasi puisi karya ayahnya, Bunga dan Tembok
Fajar Merah membawakan musikalisasi puisi karya ayahnya, Bunga dan Tembok. Goethehaus (21/8)
Dadang
Dadang “Dankie” Pranoto (Navicula/Dialog Dini Hari) membawakan lagu Sekeping Kenangan. Goethehaus (21/8)
JRX - Superman Is dead, Membawakan lagu Di Kala Sepi Mendamba.
JRX (Superman Is Dead) Membawakan lagu Di Kala Sepi Mendamba. Goethehaus (21/8)
Man Angga
Man Angga (Nosstress) membawakan lagu Si Buyung. Goethehaus (21/8)
Banda Neira Membawakan lagu Tini dan Yanti. Goethehaus (21/8)
Banda Neira Membawakan lagu Tini dan Yanti. Goethehaus (21/8)
Guna Warma (Nosstress) membawakan lagu Dekon. Goethehaus (21/8)
Guna Warma (Nosstress) membawakan lagu Dekon. Goethehaus (21/8)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s