Renungan Masa Orientasi Siswa (MOS)

Renungan Masa Orientasi Siswa (MOS)

Di negeri ini dari dulu hingga kini untuk kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) teteplah begitu. Banyak siswa baru yang ogah atau takut menghadapi mos.

Hari pertama sekolah dan beberapa hari ke depannya -biasanya seminggu- terasa berat. Baru masuk saja sudah dibully. Disuruh ini-itu. Memakai atribut yang aneh, misalnya memakai topi dari ember, bola plastik, berkalung karton yang bertuliskan nama dan identitas lainnya. Serta membawa peralatan yang gak penting juga.

Tujuan Mos di Wikipedia sendiri sebagai berikut :

1.Memperkenalkan siswa pada lingkungan fisik sekolah yang baru mereka masuki
2. Memperkenalkan siswa pada seluruh komponen sekolah beserta aturan, norma, budaya, dan tata tertib yang berlaku di dalamnya.
3. Memperkenalkan siswa pada keorganisasian
4. Memperkenalkan siswa untuk dapat menyanyikan lagu hymne dan mars sekolah
5. Memperkenalkan siswa pada seluruh kegiatan yang ada di sekolah
6. Mengarahkan siswa dalam memilih kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan bakat mereka
7. Menanamkan sikap mental, spiritual, budi pekerti yang baik, tanggung jawab, toleransi, dan berbagai nilai positif lain pada diri siswa sebagai implementasi penanaman konsep iman, ilmu, dan amal
8. Menanamkan berbagai wawasan dasar pada siswa sebelum memasuki kegiatan pembelajaran secara formal di kelas.

Tapi itu hanyalah teori. Prakteknya? Bisa dilihat sendiri. Sangat melenceng sekali dari titahnya.

Tadi pagi saya berangkat kerja melewati beberapa sekolah menengah di Jakarta. Walaupun kegiatannya masih upacara, banyak wali murid yang menunggu anaknya di depan gerbang sekolahan. Entah takut anaknya diapa-apain atau sebab lain.

Di negeri yang katanya beradab ini. mos merupakan suatu ketakutan bagi banyak murid baru. Mos yang pada akhirnya banyak yang malu karena disuruh yang aneh-aneh dari kakak kelasnya. Di suruh nyanyi dengan lirik yang diganti, dihukum push up, scot jam, dan kadang ada yang mengalami kekerasan.

Seperti 2 tahun lalu, ada siswa jogja hingga tewas karena Mos. Beritanya bisa dilihat disini

Keadaan ini terus berulang dari tahun ke tahun. Sudah menjadi budaya menahun. Rantai perpeloncoan ini susah dihentikan. Akan selalu berlanjut ke pada adik-adik kelasnya setiap tahun. Karena kakak kelas merasa “dendam” pada waktu mos yang ia alami kemudian dibalaskan terhadap adik kelasnya.

Masa Orientasi Siswa akan menjadi budaya sekaligus kegiatan yang menakutkan. Jika keadaan seperti ini terus dan tidak dirubah, masa depan bangsa ini akan dekat dengan kekerasan. Di sekolah yang katanya mencetak bibit-bibit bangsa yang berwawasan tinggi, berbudi pekerti luhur dan jargon-jargon yang membuat kita terpana lainnya. Justeru malah melahirkan anak yang pandai ngebully, dan tindakan-tindakan negatif lainnya.

Pada akhirnya, MOS adalah sebuah kegiatan yang tidak bermanfaat dan lebih banyak mengandung mudharotnya. Satu yang pasti dan bermanfaat, MOS membuat kita mendapat kenalan baru yang cantik/ganteng dan berlanjut menjadi gebetan baru di sekolah.
Tambahan : untuk para peserta MOS yang mendapatkan kekerasanbisa melapor online ke laman modp.kemdikbud.go.id

Ilustrasi gambar dari Liputan6.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s