Membuat Kopi a la Ibu Saya

Membuat Kopi a la Ibu Saya

Di kampung saya sebagian besar masyarakatnya dalam hal memasak masih menganut sistem tradisional, misalnya menanak nasi masih dengan kayu bakar. Membuat air minum masih dari sumur lalu direbus.

Memasak dan lainnya masih memakai dapur sederhana, kami menyebutnya pawon. Dengan kayu bakar dari ladang atau pekarangan rumah. Tidak dengan kompor gas macam orang-orang modern. Tapi beberapa tahun belakangan, sudah agak beralih ke mesin. Sudah banyak yang meninggalkan kegiatan ini.

Di sini saya akan menulis tahap-tahap membuat kopi tubruk a la ibu saya. Kopi buatan ibu saya sangat nikmat, berani diadu dengan kopi sachetan di warung-warung. Untuk bahannya sangat simpel dan gak ribet;

Siapkan bahan-bahan berikut ini :

  1. Kopi mentah 1 Kilogram
  2. Gula pasir 7 sendok makan.

Langkah pertama adalah kopi dicuci hingga bersih. Lalu siapkan perapian yang stabil (api normal, tidak mati lalu hidup dan seterusnya). Selanjutnya adalah siapkan kereweng (tempat penggorengan dari tanah). Kemudian kopi digoreng, untuk di tahap ini, kopi harus di bolak-balik terus. Karena jika kopi tidak merata matangnya, maka rasanya tidak enak. Kurang sedap.

Kira-kira mebutuhkan setengah jam untuk menggoreng kopi. Jika kopi sudah berubah menjadi warna hitam. Maka harus diangkat dari pawon.

Kuncinya agar kopi nikmat kata ibu saya adalah di pengapian. Jika api terlalu besar, kopi akan menjadi (gosong) pahit. Kalau sebaliknya, kopi akan menjadi kemlingkingan, entah bahasa indonesianya apa. Saya belum menemukan yang pas untuk kata ini. Maksudnya itu ialah, hasil kopi setelah digoreng mengecil, tapi di dalamnya masih mentah.

Menggoreng kopi memang susah, tidak sembarangan seperti goreng telur. Harus mempunyai jam terbang tinggi. Jika tidak bisa dalam mengatur api, dan teratur membolak-balik maka hasil kopi sudah dipastikan tidak enak.

Setelah kopi matang, campurkan gula pasir ke dalam kereweng. Aduk hingga rata. Di tahap ini, kopi sudah mengeluarkan bau harum. Semerbak di sekitar kita. Mencampur gula sudah selesai. Selanjutnya kita pindahkan ke wadah. Dibiarkan hingga dingin.

Sedikit intermezo saja, sambil menunggu kopi dingin. ibu saya membeli kopi 1 kg harganya 30.000. Gula pasir, tidak ada seper empat kilogram. anggap saja kopi dan gula 32.000. Jasa giling kopi hanya 4.000 saja. Jika kita jual akan mendapatkan 50.000. Kita untung 14.000. Kopi mentah 30.000 itu sudah termasuk kualitas kopi bagus. Masih ada yang lebih murah harga kopinya, ada yang perkilo 24.000. Sangat bervariasi.

Harga di atas jika menjual masih dalam keadaan kopi bubuk. Jika dijual dalam bentuk wedang, bisa diangka ratusan ribu. Untung banyak. Di kampung saya harga wedang kopi secangkir masih 1.500. Murah sekali bukan?

Oh ya lupa. Jika api terlalu besar akan menghasilkan kopi pahit pun ketika digoreng kopinya juga berkeringat (mengelurkan cairan).

Jika dirasa sudah dingin, maka waktunya kopi ditumbuk hingga halus. Kalau tidak mau menumbuk, jalan pintasnya adalah digiling dengan mesin. Untuk rangkaian semua dalam  membuat kopi ini memakan kurang lebih 3 jam jika dengan tumbuk sendiri. Jika dengan giling mesin hanya menghabiskan kurang dari 2 jam.

Begitulah langkah-langkah ketika ibu saya membuat kopi. Hasilnya enak sekali. Kalah jika dibandingkan kopi hasil jadi di warung-warung.

Saya adalah penikmat kopi. Terutama kopi buatan ibu saya. Lebaran ini saya pulang kampung, seperti biasanya jika balik lagi ke Jakarta, tentunya saya membawa kopi dari kampung yang banyak. Hehehe.

Sebenarnya tidak ada racikan rahasia. Mungkin langkah-langkahnya sangat umum dilakukan. Tapi saya tetap percaya hingga sekarang, bahwa kopi ibu saya adalah kopi terbaik yang pernah saya temui.

Ada pula yang membuat kopi ketika digoreng juga dicampur beras. Agar kopi hasilnya menjadi banyak. Jika dijual akan semakin untung. Tapi rasanya berkurang. Saya tidak suka kopi yang dicampur dengan beras seperti ini. Dulu ketika saya masih kecil. Di keluarga nenek saya jika membuat kopi selalu dicampur dengan beras. Kalau sudah seperti itu, jika saya main di rumah nenek, jarang minum kopi.

Tulisan ini hanya sedikit tentang membuat kopi dengan cara tradisional. Masih banyak jenis dan cara pembuatannya di Indonesia. Mungkin di setiap daerah mempunyai ciri khas yang beda.

Kopi tak sekadar minuman di kala pagi atau malam. Kopi seperti rokok, suatu kebutuhan primer setiap hari. Jika tidak meminum sehari, rasanya ada yang berkurang.

Kopi adalah minuman sekaligus teman, dan kopi adalah segalanya. Kopi bisa menjadi puisi. Rangkaian rasamu membuatku mabuk untuk menambah bercangkir-cangkir. Kopi… Adalah ciptaan Tuhan yang betapa syahdu dan nikmatnya.

 

IMG_2526IMG_2527IMG_2539IMG_2541

IMG_2546IMG_2545IMG_2550IMG_2557

 Catatan : klik gambar untuk memperbesarnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s