Mabuk dan Bikin Onar, Jagoan atau Dangkal?

Mabuk dan Bikin Onar, Jagoan atau Dangkal?

Kemarin saya mengalami tindakan yang tidak menyenangkan. Begini awal ceritanya; saya pukul 8 malam baru saja sampai rumah, kampung halaman. Dari perjalanan (mudik) Jakarta ke Ngawi. Sekira jam 9 an teman lama saya menghampiri dan diajak nongkrong di tempat tetangga saya.

Nah teman saya itu sedang lapar, sebut saja namanya Demit. kebetulan juga dari perjalanan mudik saya belum kemasukan nasi sama sekali dari sehari sebelumnya. Maka jadilah, saya, teman saya yang menhampiri tadi (demit) dan teman saya satunya lagi sebutlah namanya Kodok.

Kami bertiga bermaksud untuk cari makan di warung angkringan. Saya dibonceng oleh Kodok, lalu Demit naik motor sendirian.

Di perjalanan berangkat sih lancar-lancar saja. selesai-lah makan di angkringan. Sekira pukul 11 kami memutuskan untuk pulang. Karena Demit bilang udah ngantuk. Maka kami pulang, dengan naik motor yang santai serta menikmati jalanan sawah. Dan rute kami itu terdapat sawah yang panjang nan sepi. Seperti biasa di pertengahan sawah itu ada beberapa orang nongkrong, mereka biasa nongkrong di jembatan. Kami menyebutnya jembatan “ngonggo”.

Tibalah kami di jembatan itu, di depan kami dihadang oleh beberapa orang dengan omongan yang tak jelas, dan kami tahu mereka sedang mabok.

Pertama kami sih biasa saja, lalu si Demit tancap gas motornya, hingga hampir menabrak orang yang menghadang paling depan.

Lantas kodok otomatis ikut ngegas, walaupun ia dihadang yang lainnya, tapi lolos. Kami akhirnya lolos dari hadangan begundal mabok yang sok menjadi jagoan atau disengaja atau apalah pikirannya. Entahlah.

Mereka berjumlah di atas 5 orang, makanya kami memutuskan untuk kabur menyelamatkan diri. Daripada berantem yang gak jelas dan gak dapet apa-apa. Paling kalau kami kalah, akan bonyok dan bisa-bisa uang di dompet dan beberapa handpone kami diambil. Kalau kita yang menang, juga gak mendapatkan keuntungan. Makanya kami lebih baik menyelamatkan diri.

Kami tancap gas, hingga kurang lebih 100 meter. kami yakin sudah lolos, lalu memelankan sepeda motor kami. Tetiba di depan ada 1 orang dengan motornya yang masih hidup tapi ia tak menjalankan motornya. Ia melihat kami bertiga, kami yang udah negatif thinking langsung tancap gas lagi. Pikiran saya, pasti itu temannya berandalan yang menghadang kami barusan.

Kami tancap gas lagi hingga sampai di dekat rumah saya. Kemudian kami beristirahat sejenak sambil ngobrolin yang barusan terjadi.

Tak dikira, satu orang yang naik motor tadi menghampiri kami. Lalu ia berbicara kepada kami. “Kenapa takut dengan orang mabok seperti mereka, kalian kan bertiga dan waras, kalau diajak berantem pastinya kalian yang menang.

Sebenarnya tadi saya mau ngajak nampolin mereka, tapi kalian malah kabur duluan” lalu demit menimpali omongan orang itu, “lah mereka kan lebih dari empat orang, dan saya kira tadi situ temenya mereka, makanya kami tancap gas” lalu si orang tadi pergi, entah kemana. Percakapan di atas tentunya dengan bahasa jawa, bahasa sehari-hari kami.

Mabok, lalu membuat onar.

Cih! Norak sekali sih. Seperti ini nih yang membuat Indonesia tak akan maju-maju. Masih ngandelin otot. Petentang-petentang belagak jadi jagoan. Lalu malakin atau apalah namanya kepada orang yang lewat.

Ini negara bukan bersistem pada hukum rimba coy! Gak seenaknya lo bisa malakin orang atau lo mabok lalu bisa bikin onar dan seakan perbuatan lo sah-sah aja.

Pantes saja alkohol sekarang dibatesin dan mendapatkannya susah. Kok pemikiran dangkal seperti itu masih saja laku hingga sekarang. Dari dulu pemikiran yang seperti ini (perbuatan) masih menjadi salah satu cara agar ia menjadi jagoan.

Persetan dengan orang mabok lalu menantang kelahi tanpa sebabnya apa. Mereka beralasan orang mabok itu sudah tidak terkrontol. Heh cuy, kalau kamu mabok, yaudah nikmatin aja dan resapi jangan sok jadi jagoan. Memangnya ini negara barbar?

Kalau kamu mabok dan sudah tak terkontrol lagi, mending tidur aja. Teler kok bikin onar. Jangan norak dah.

Saya sendiri juga suka minum, toh saya jika seumpama mabok berat dan walaupun sudah tak terkontrol lagi, saya lebih memilih tidur.

Jika masih menantang orang kelahi itu, sepertinya ya memang disengaja sih menurut saya. Entah pendapat saya benar atau tidak. Tapi begitulah bangsa ini, selalu saling mencari pembenaran diri sendiri.

Bagi saya poinnya sih simpel. Jika kamu ingin mabok, ya mabok aja. Tapi jangan ngusik orang lain. Apalagi sampai ngajak kelahi, malak dan lain sebagainya kepada orang yang tak salah atau tak dikenal. Mending jika kamu menang kalau kelahi, nah misal kamu kalah berantem dan dihabisi? Mikir panjang boy, kalau mau jadi jagoan. Gak usah sok jagoan seperti itu, norak lo!

Di luaran sono bejibun juga kok peminum berat. Tapi mereka tetep asik dan damai.
Kalau kalian masih melakukan tindakan yang semena-mena. Wajar kalau bir dan semacamnya akhir-akhir ini dilarang, karena kalian norak!

Tunjukkan dong, kalian para peminum itu jika minum ya tak usah bikin onar dan tindakan-tindakan negatif lainnya. Saya juga peminum, walaupun hanya kadang-kadang tapi saya tetap damai kok. Sekian. Tabik!!

Catatan : ilustrasi gambar dari shutterstock.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s