Lelaki Malas

Lelaki Malas

Hari-hari telah ku jalani dengan sederhana. Dengan kemalasan yang mengikuti sepanjang hari. Ia seakan menjadi teman hidupku. Teman setia yang tak pernah meninggalkanku. Aku suka, kadang aku muak. Seperti itulah kehidupanku. Datar saja, tak ada yang berarti. Hidup adalah tentang melawan dunia yang semakin hari semakin berat. Begitulah caraku, cara hidup dengan kemalasan. Ah mungkin aku hanya mengigau saja. Mana ada manusia malas akan berhasil.

Hidup terus berjalan. Detak jam dinding terus berbunyi. Dan aku seolah hanya terkapar di ranjang. Sunyi, sepi tanpa ada pikiran-pikiran yang berarti. Hidup terus ku jalani. Ini hanya tulisan yang tak mengandung isi. Ini hanyalah tulisan yang aku tulis beberapa menit sembari menghabiskan rokok di sela jari telunjuk dan tengah. Asap rokok ku hisap dalam-dalam. Ku hembuskan lagi asapnya lalu menghilang lepas landas karena kipas angin di kamar ini yang terus berputar mengeluarkan angin.

Semenjak aku menganggur, telah banyak berkurang konsumsi rokokku. Setres memang, tapi keadaan ekonomi menjadi alasan utama. Rokok hanyalah sedikit bagian dari hidupku, pun dengan kopi semenjak datang bulan ramadan lima hari silam, konsumsi kopiku juga menurun drastis, berbeda dengan waktu sebelumnya. Apalah aku ini, seorang pria lemah yang bermimpi besar tanpa melakukan aksi nyata. Hanyalah angan-angan yang terlintas di otak yang malas.

Lelaki sepertiku mungkin tak banyak gunanya. Banyak di luaran sana lelaki yang mempunyai keahlian di bidangnya masing-masing. Aku tak mempunyai sedikitpun keahlian untuk megapai mimpiku. Aku hanya berharap keajaiban datang, turun ke bumi dan aku bisa meraih keajaiban tersebut. Rokok di tangan kiriku sudah habis, pertanda bahwa aku menulis ini sudah menghabiskan sekira lima menit. Lantas aku mengambil satu batang lagi, untuk melanjutkan tulisan yang tak bermakana ini.

Aku menginginkan masa-masa seperti ini segera habis, diganti dengan kegiatanku yang lebih berguna. Rokok, tidur dan mendengar musik menjadi kegiatanku rutin selama dua puluh hari ke belakang. Jarang keluar rumah dan jarang bersosialisasi. Keluar rumah hanya untuk beli makan, mungkin itu tak lebih sepuluh menit. Selanjutnya, aku balik lagi ke tempat pertapaanku, kamar. Hampir 24 jam full aku habiskan di tempat itu. Aku suka, tapi kadang bosan.

Aku bingung kalau sudah di depan laptop. Ingin menulis apa dan ide-ide itu tak segera datang menghampiri di jendela otakku. Aku berpikir, mungkin inilah yang dinamakan orang yang tak pandai menulis, tapi ingin jadi penulis. Tak ada modal sama sekali bagiku untuk menjadi penulis. Pun dengan latar belakangku. Aku dilahirkan dari keluarga seorang petani, lahir dan besar di lingkungan tani. Jauh, jauh sekali kehidupanku dengan tulis menulis maupun pelajaran menggabungkan kata-kata. Yang aku tahu hanyalah, menjadi seorang penulis itu susah. Bahkan membuat satu cerpen atau satu karya saja bisa menghabiskan berhari-hari atau bahkan tahun.

Bagiku, keinginanku terlalu berlebihan. Aku hanyalah lelaki yang lemah dalam segala hal. Mungkin ini bisa jadi alat untuk menjadikan kekuatan bagiku di amsa entah kapan. Teman-temanku banyak yang sukses di bidangnya masing-masing. Sedangkan aku, masih termenung tak jelas seperti ini. Aku lelaki yang tak mempunyai apa-apa. Hanya impian-impian yang bisa aku banggakan. Impian ingin menjadi seorang yang berguna di kehidupan mendatang. Aku yakin, Tuhan akan memberikan jalanku tersendiri. Entah dengan jalan seperti apa. Entah dengan cara apa, aku yakin akan menjadi orang yang berarti bagi kehidupan.

Lelaki malas ini akan terus meraih mimpi dengan angan-angan yang ada di kepalanya. Suatu saat seseorang yang menghina/mengejekku pasti akan menyesal di kemudian hari. Pun dengan kau yang mencampakkanku, suatu saat kau akan mengerti apa artinya dicampakkan itu. Karma masih berlaku di dunia ini. Percaya tidak percaya, karma adalah kekuatan terakhir untuk sebuah jawaban. Waktu, yang akan membuktikan itu.

Perlahan aku mulai malas dengan menulis ini. Pelan-pelan aku sudah kehabisan akal untuk meneruskan tulisan ini. Tapi, kadang rasa malas seperti ini yang akan ku lawan. Tak perlu dengan ikat di kepala, lalu berteriak semangat dan memantapkan hati. Melawan itu hanya dengan terus mengetik entah kata-kata yang teka jelas atau sederet rangkaian huruf yang tak mengandung makna. Aku perlu menulis, dan terus menulis. Agar rasa malas itu akan segera bergegas dan pergi diganti dengan semangat yang menggebu dan lancar mengetik. Ku pandangi huruf demi huruf di keyboard komputer jinjingku. Aku ingin terus menulis hingga rasa kantuk menjalari badan ini.

Huruf demi huruf ku pencet agar menjadi kata-kata. Aku hanyalah seorang lelaki malas yang datang ke dunia ini. Ini hanyalah sebagian rangakain huruf-huruf yang tercecer di kepalaku. Masih banyak lagi yang mengepung isi kepalaku yang belum aku rangkai dengan baik. Dengan mengetikkan huruf ini, mungkin sedikit membuatku lebih lega. Isi di kepala sedikit demi sedikit aku keluarkan. Agar perasaan yang terpendam selama bertahun-tahun bisa sedikit tersalurkan.

Ini bukan sebuah puisi yang romantis. Tulisan ini hanyalah kata-kata yang lahir dari kegelisahan seorang lelaki malas di malam hari yang sunyi nan pengap di kamar kostku. Ini bukan lantunan doa-doa serta pujian kepada Tuhan, ini hanyalah huruf-huruf yang mengandung kata gelisah yang akut. Ini bukan bait yang apik, ini hanyalah serangkain kata yang bisu dan susah diartikan.

Mengertilah, aku bukanlah tak ingin kerja keras mati-matian untuk sebuah keberhasilan di masa depan. Aku menginginkan itu semua seperti manusia yang lainnya. Tapi saat ini, mungkin belum waktunya, keadaanlah yang menjadikanku seperti ini. Lelaki yang malas dan belum berguna bagi sekitar.

Aku menulis ini, malas untuk memberikan sebuah judul. Tapi, tulisan dari awal hingga akhir, terpotret kata malas, dan lelaki. Maka aku akan memberikan judul tulisan ini dengan lelaki malas. Malas, adalah kehidupanku akhir-akhir ini. Semoga jika ada yang membaca, tak akan sepertiku. Jangan, jangan sampai kalian sepertiku, tak ada untungnya. Tetaplah menjadi dirimu sendiri, dengan kesenanganmu sendiri. Maka akan kau raih kehidupan yang bahagia.

Tulisan ini sudah terlalu panjang. Aku akhiri tulisan ini dengan mengucapkan  syukur keada Tuhan, bahwa lelaki malas sepertiku masih diberikan umur dan masih dibolehkan menulis yang tak jelas seperti ini. Sekian.

ilustrasi gambar dari : 1.bp.blogspot.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s