Langgar

Langgar

Waktu masih umur 10 tahun, saya hampir setiap bagda magrib  melakukan dzikir. Kegiatan itu saya lakukan di langgar bapak saya. Ketika saya sekitar kelas satu dasar, bapak saya mendirikan langgar di belakang rumah. Karena waktu itu, di belakang rumah masih ada tanah kosong. Hari-hari banyak saya habiskan di langgar itu. Jika siang, setelah pulang dari sekolah saya dan teman-teman saya bermain di langgar bapak saya itu. Dari petak umpet, main kelereng di sekitar langgar dan lainnya. Langgar saya ramai, jika waktu sholat magrib tiba, tetangga sekitar saya pada datang untuk sholat berjamaah tapi itu, tidak berjalan lama. Ramainya jika waktu magrib dan isya, untuk subuh dan dzuhur serta ashar tak ada tetangga yang sholat di langgar. Kecil memang, langgar yang dibuat bapak saya, sekira empat kali enam meter. Tapi ada dipannya, dan dibuat seperti rumah panggung. Jika usai sholat magrib, dan para jamaah sudah pulang. Maka saya berdzikir menghabiskan waktu hingga sholat isya tiba. Saya dulu punya beberapa tasbih  dari bahan kayu dan plastik.
Saya senang menghabiskan waktu semalaman di langgar bapak saya. Pun senang lagi, kalau dibelikan kopiah atau tasbih baru. Saya sukanya tasbih dari kayu, soalnya ketika digunakan enak dan lebih sreg aja. Selera saja sih sebenarnya. Kalau tidak dzikir, saya lakukan dengan membaca Al Quran sendirian di langgar. Perlu diketahui, langgar bapak saya tak memiliki pengeras suara, yang akhir-akhir ini sering diperdebatkan karena mengganggu. Pun pembuatannya serba bahan kayu semua.

Entah sebab apa, ekonomi keluarga saya menurun. Dijuallah tanah belakang rumah saya. Otomatis langgar juga dirubuhin. Kejadian itu, kalau tidak salah ketika saya kelas 2 SMP. Setelah dijual tanah belakang rumah belum ditempati hingga saat ini. Sang pembeli separo tanah kami itu, tetangga sendiri, sebelah kiri rumah saya.

Jika saya pulang kampung setiap lebaran, kadang saya masih ingat suana sendu dan heningnya langgar bapak saya.  Semenjak saya lulus dari SMP, rumah saya dibangun, diganti menjadi tembok. Saat itu, uang untuk membangun rumah dibantu oleh kedua kakak saya yang sudah bekerja. Dulu rumah saya, seperti kebanyakan rumah-rumah di kampung; berbahan kayu, dan dindingnya masih berdinding papan yang terlihat klasik dan sangat sederhana. Semenjak dibangun, kenangan-kenangan di langgar semakin hilang jejak-jejaknya.

Mengaji dan berdzikir itu tak bisa lepas dari hidup saya ketika masih sekolah dasar.  Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya. Bahwa saya mengaji pindah-pindah tempat. Saya pernah diusir oleh bukan guru ngaji sih, tapi kalau tidak salah  anaknya sang guru, karena saya telat datang dengan teman saya. Akhirnya saya tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran hari itu. Lantas saya tak pulang, kalau langsung pulang ke rumah, saya bisa ditanyain oleh bapak / ibu saya, paling banter dimarahin, pun dengan teman saya, maka kami memutuskan untuk menghabiskan waktu ke rumah teman yang tidak ikut mengaji dan menonton televisi. Saya dengan ketawa-ketawa lalu nonton film kartun Captain Tsubasa. Hingga menjelang magrib, saya dan teman saya lalu pulang ke rumah bareng teman-teman yang mengikuti belajar mengaji. Jika klau ditanya orangtua masing-masing jawabnya bisa sama.

Saat ini, langgar bapak saya sudah rata dengan tanah dan tak berbekas. Kadang jika saya mengingat lagi tentang langgar bapak saya, saya meneteskan air mata. Ada keharuan tertinggal di sana dan rekaman tentang langgar kadang muncul sendiri, jika saya sedang sholat di mushola. Dan dua tahun belakangan ini, rumah saya kosong. Bapak dan ibu saya memutuskan tinggal di rumah kakak saya yang kedua. Jika pulang lebaran nanti, semakin hilang ingatan-ingatan atas langgar itu. Kata Ibu saya, itu rumah buat kamu nak. Kakak-kakakmu kan sudah punya rumah sendiri. Saya hanya tersenyum dan mengingat dzikir di langgar atau tadarus. Kenangan masa kecil saya terlalu indah untuk dilupakan. Masa anak-anak adalah masa yang paling sempurna. Tertawa lepas, bermain hingga dicariin ibu dan lai-lain. Aih sedapnya masa-masa itu.

Catatan : langgar adalah mushola kecil. Di kampung saya, mushola kita sebut dengan langgar hingga saat ini.

langgar kuno, pic from tembi.net

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s