Pengangguran

Pengangguran

Manusia semacam ini buat mayoritas masyarakat di Indonesia identik buruk. Males, gak disiplin dan bodoh. begitulah kira-kira pandangan orang terhadap orang yang sedang menganggur. Belum tentu itu benar, itu hanya pemdapat saya dan mungkin salah. Tapi, persepsi seperti itu hal yang umum dalam masyarakat kita sehari-hari. Misal sepasang kekasih sudah lama berpacaran, tapi tak

kunjung menuju ke pelaminan salah satu sebabnya adalah sang orangtua perempuan tidak setuju karena pacar anaknya itu seorang pengangguran. Mau dikasih apa kelak anak saya ketika sudah berumah tangga, mau jadi apa anak saya nanti kalo suaminya tidak bekerja dan lainnya. Begitulah salah satu pemikiran orang tua terhadap calon suami anaknya. Bermacam-macam kriteria serta alasannya. Banyak kok yang berakhir tidak menikah, karena si pria belum mapan (menganggur), masih mapan si anu tetangga depan rumah, mending sama anaknya pak Haji dan perbandingan-perbandingan lainnya yang kadang membuat menjadi tidak masuk akal.

Pengangguran. Dari dalam hati seorang pengangguran sebenarnya juga gak mau nganggur. Pengen secepatnya bekerja, dan bisa membeli apa yang diinginkan. Bisa membahagiakan keluarga dengan uang hasil jerih payah sendiri, bisa ngasih uang jajan ke ponakan, bisa nraktir pacar, temen, bisa nabung dan lain sebaginya. Tidak berkerja itu bukan pilihan, karena situasi dan kondisi yang menjadikannya seperti itu. Kalau sudah seperti itu, pasti ada cemoohan orang lain yang bilang, “makanya jangan males!”, dalam hati orang nganggur itu sangat terpukul dan bisa menjadi cambuk bagi diri sendiri. Males? Mungkin iya, dan mungkin tidak. Sudah berapa surat lamaran yang ia kirim ke perusahaan-perusahaan itu. Dari perusahaan kecil, menengah hingga terbuka sekalipun ia kirimi surat lamaran. Tapi memang nasib sedang tak memihak, lamaran tinggallah lamaran, ditunggu sehari, dua hari, seminggu, bulan tak dapat panggilan untuk wawancara.

Di negeri ini, orang yang tak punya pekerjaan jutaan jumlahnya. Tidak main-main kok untuk latar belakang pendidikannya. Dari yang tidak sekolah hingga gelar sarjana banyak yang tak bekerja. Di kota maupun di desa sama saja. Pengangguran banyak jumlahnya. Jika kurang gesit lowongan pekerjaan sudah ditikung oleh orang lain. Dan tentu ada hal lain yang membuat orang beruntung segera bekerja adalah campur tangan dari orang dalam. Sudah umum keleus, praktek seperti itu terjadi. Gak hanya di perusahaan kecil, perusahaan besar nasional dan pemerintahan semua melakukan hal itu. Jika ada yang bilang tidak ada KKN, itu mungkin adalah salah satu aja, minoritas yang jika dibuat persentase Cuma menempati 0,05 persen. Dan satu lagi, orang cepat mendapatkan pekerjaan ialah, menyogok! Bah apaan itu? Ya, pekerjaan “di bawah meja” itu masih dilakukan hingga sekarang. Buanyaaaak kasusnya. Gak hanya buat cepat mendapatkan pekerjaan sih, tapi untuk naik jabatan praktek itu juga dilakukan.

Sistem di Indonesia ini memang amburadul. Dan prakteknya lebih kacau. Satu lowongan pekerjaan, yang melamar puluhan orang dan bahkan ratusan. Kalau tak kreatif, keahlian mumpuni dan keberuntungan maka mencari kerja adalah hal yang sukar bahkan seperti mencari jarum dalam jerami.

Memang benar. Hidup yang sebenarnya adalah ketika kamu lulus dari sekolah. Entah dari perguruan tinggi maupun sekolah menengah atas. Kalau dalam taraf UN dan sejenisnya banyak siswa yang mengeluh dan ada pula yang bunuh diri, terus kau belum merasakan setelah lulus dan bertarung sesungguhnya untuk mencari pekerjaan yang lawannya ratusan, ribuan orang. Matilah kau!

Pengangguran. Setiap orang lahir dan besar bukan untuk menjadi pengangguran. Mungkin saat ini belum waktunya untuk kerja seperti manusia-manusia lain. Mereka termasuk saya juga gak pengen berlama-lama nganggur kok. Lhawong baru seminggu gak kerja saja, dompet sudah tiris dan pengen diisi dan oh ya, udah bosen ngejogrok di rumah terus dan malu sama tetangga.

Sudah ah, lhakok jadi curhat. Kesimpulannya, berbahagialah kalian yang saat ini sudah meiliki pekerjaan (walaupun tak nyaman di hati), bertahan lah, karena di luar sana masih banyak orang yang tak seberuntung kalian.

Tabik!

nb : ilustrasi gambar diambil dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s