Ibu dan Kedelai

Ibu dan Kedelai

Saya sudah lama sekali tidak makan yang satu ini, kedelai rebus tepatnya. sekira empat tahun belakangan. Maksudnya yang kedelai masih berbentuk biji, bukan yang sudah jadi seperti tempe, susu dan lainnya. Itu dikarenakan saya tinggal di Jakarta. Bukan karena susah menemukannya, Tapi memang tidak terlalu saya butuhkan untuk saat ini. Kedelai adalah salah satu sumber kehidupan di kampung saya. Mbah saya di kampung, hingga saat ini masih menanam tumbuhan itu, pun dengan warga kampung saya. Memang bukan yang utama, untuk pilihan menaman kedelai. Tapi tetap banyak yang bertani dan masih bertahan hingga sekarang.

Sore tadi, ada seorang lewat depan gang rumah saya yang menjajakan makanan hasil bumi. Jagung rebus, kedelai dan lainnya. Tentu saya yang sudah lama tak emncicipi, sayapun membeli jagung dan kedelai rebus. Lama tidak makan kedelai rebus, membuat saya ingat zaman kecil dan Ibu saya . Ketika itu Ibu saya menjadi pedagang (pembeli sekaligus penjual) hasil bumi, tapi masih mentah. Dintaranya padi, kacang, ketela, kedelai, jagung dan lainnya. Jika masa panen tiba, maka rumah saya penuh dengan dagangan ibu saya, dari ruang tamu, depan rumah dan dapur kami. Tumpukan karung-karung menjejali area rumah. Dulu belum punya gudang untuk penyimpanan, alhamdulillah sekarang sudah ada tempatnya. Ibu saya bukan pedagang yang besar, dan belum menjadi juragan, hingga saat ini belum juragan juga. Kadang saya membantu Ibu, jika para tetangga kami menjual hasil panennya ke rumah saya, saya ikutan menimbang dan menghitung jumlah uang yang harus ibu bayarkan ke penjual.

IMG_0015 1
kedelai yang saya beli

Walaupun saya lahir dan besar di wilayah pekerjanya yang mayoritas bertani, tapi saya lebih mengerti berdagang daripada bercocok tanam. Dari kecil saya diajarin Ibu saya walaupun saya lebih senang main. ilmu berdagang saya dari Ibu saya walaupun sedikit. Ia adalah pedagang ulung. Hingga sekarang masih berdagang. Saat ini Ibu saya tidak sebanyak dulu untuk yang ia beli dari petani. Saat ini yang dibeli  adalah padi dan beras saja. Untuk kacang dan jagung serta kedelai ia tinggalkan, dikarenakan ibu saya belakangan ini kesehatannya kadang memburuk akibat insiden kecelakaan sepeda motor.

Di setiap doa saya, selalu saya lantunkan untuk kesehatan Ibu saya. Walaupun dulu saya sering memarahi, membantah dan bandel ketika SMA. Saat ini saya sadar, betapa pentingnya Ibu bagi saya, betapa berharganya Ibu untuk mengajarkan nilai-nilai moral dan tingkah laku yang baik. Dan betapa besarnya jasa Ibu untuk menghidupi anaknya hingga saya menjadi seperti ini. Tak ada nominal yang bisa dibayarkan untuk membalas jasa Ibu. Ia begitu ikhlas dan tak ada duanya. Bagi saya ibu adalah segalanya, tak bisa dibayar dengan apapun, pun dengan keluarga.

Sebenarnya saya di awal  tidak akan menulis melankolis seperti ini. Tapi entah mengapa jadinya begini dan saya mau meneteskan air mata jika ingat kelakuan saya terhadap ibu saya. Besarnya dosa saya. Maafkan saya mbok, saya terlalu pongah dan  maafkan anakmu ini belum bisa membahagiakanmu. 😥

catatan : gambar pertama saya ambil dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s