Pak Polisi

Pak Polisi

Pagi tadi saya ketika berangkat ke kampus, perasaan saya sudah ndak enak. Pertama, karena kesiangan dan entah kenapa pokoknya ada sedikit yang ganjel di hati. Ternyata benar, baru mengendarai motor sekira sepuluh menit, di jalan Gunung sahari arah ke Senen ada cegatan (razia). Banyak pengendara motor yang balik arah, dan menghindari razia pak polisi itu. Saya sendiri SIM ada dan STNK ada di dompet dan lampu depan sudah saya nyalain, jadi stay cool dan hingga dekat dengan pak polisi saya diberhentikan. Batin saya, duh ketilang ini, sial. Kalimat yang diucapkan pertama oleh polisi tersebut adalah “Asalamualaikum”  saya segera menjawab salam pak polisi itu dengan tenang, walaikum salam pak. Selama saya diberhentiin oleh polisi, baru sekali ini sapaan seperti itu. Biasanya kan dengan, selamat malam, siang dan sapaan formal lainnya. Kemudian biasa, pak polisi itu basa-basi. Di sekeliling saya, banyak pak polisi yang berhentiin entah motor, maupun kendaraan roda empat pribadi, saya melihat-melihat ke mereka. lalu percakapan saya dan pak polisi, kira-kira seperti ini;

Pak Polisi (P) dan Saya (S)

P : Mau kemana mas?

S : Kuliah, Pak.

P : Kuliah dimana?

S : Daerah Kampung Melayu, pak.

P : Oh, gitu ya. Coba ditunjukkan surat-surat, dan SIM-nya mas.

S: *Membuka tas, ngambil dompet, lalu mencari SIM dan STNK* , ini pak (sambil ngasih SIM dan STNK).

P: Oh, wong Ngawi to sampean. Ngawine endi? (oh orang ngawi ya kamu, ngawinya dimana – jawa) perlu diketahui, saya menunjukkan SIM saya yang masih berdomisili di kampung, Ngawi.

S: Walikukun Pak.

P : Yawes, lanjut jalan mas. *sambil ngasih senyum*

S : *senyum balik* matur suwun pak, mangga. (terimakasih pak, mari – jawa)

Lalu ngeslah saya. Sambil mengendarai saya  mikir begini, ada apa dengan kampung lahir saya? kok si polisi tadi ketika melihat SIM saya yang beralamat di Ngawi, langsung sopan dan ramah, walaupun sapaan di awal ramah juga, tetapi lebih ramah dan sedikit akrab setelah ia tahu alamat SIM saya dibuat. Pak Polisi itu, saya perkirakan seumuran bapak saya, hampir 50 tahunan dan kumisnya tebal, hampir agak gugup juga pas pertama diberhentiin, tapi dengan salam pertamanya itu saya jadi woles. pikir saya, polisi syariah ini. hehehe.  Entah pak polisi tadi, berasal dari kampung saya atau sekitaran kampung saya, saya tidak tahu. dan saya juga gak sempat melihat papan namanya. Yang penting, saya aman dan ndak ditilang. iya kan? 🙂

Kejadian seperti itu, pernah saya alami sekitar setahun yang lalu. Respon pak polisi setelah melihat SIM saya, langsung senyum dan suruh lanjut jalan lagi. Tak tau saya dengan kampung kelahiran saya itu, Ngawi. Tapi sampai sekarang, saya semakin bangga dengan kampung saya.

Minggu lalu, saya juga sempat diberhentiin oleh polisi di daerah Tugu Tani, Jakarta Pusat pas mau ke TIM, acara TributToKretek, tapi ndak jadi. Padahal, motor saya lengkap, dan lampu depan nyala. Kok pak polisi itu, suka banget ngeberhentiin saya sih. Huh! Tapi, polisi yang tadi pagi saya temui adalah polisi baik. Ya, tadi pagi! Hehe

catatan : foto diambil dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s