Salah Satu Surga Dunia

Salah Satu Surga Dunia

twitterJika saya beberapa waktu lalu pernah nulis twit betapa rindunya masakan Ibu saya, maka hari ini rindu saya kesampaian juga. Ibu saya kurang lebih 3 minggu lalu datang ke sini, Jakarta. Bukan karena apa-apa. Adalah ketika salah satu kakak saya yang nomor dua mau melahirkan anakknya yang kedua, maka datanglah Ayah dan Ibu saya. Ayah saya balik lagi ke kampung setelah empat hari kakak saya melahirkan, sedangkan Ibu saya masih tinggal di sini, bersama anak dan cucu barunya. Hehe
Saya bukan mau cerita tentang kakak dan Ibu saya, tapi disini saya ingin cerita tentang masakan ya masakan lagi. jadi begini, per hari ini (4/6) masa kerja saya di perusahaan lama sudah berakhir alias habis. Kenapa bisa habis, kalian bisa membacanya di sini. Hari pertama saya tidak bekerja, membuat saya sedikit agak jenuh. Baca-baca berita di handphone, nonton tv sebentar dan balik lagi buka handphone, cek twitter dan saya ulangi seperti itu terus hingga saya bosan. Ibu saya berucap, “Ibu masak aja, ngirit, kamu kan ndak kerja” duh..

Tumis PepayaHari ini Ibu saya masak tumis pepaya dicampur kacang, ikan asin dan tempe goreng. Betapa nikmatnya itu. Seperti tulisan pembuka di atas, betapa rindunya saya dengan masakan Ibu saya. Maka hari ini saya kesampaian juga rindu saya, dibayar lunas! Masakan Ibu saya adalah masakan yang penuh cinta dan rasanya tiada tandingnya. Bukan hanya Tumis kangkung, masakan Ibu saya yang paling saya sukai adalah sayur bening (asem) ditambah dengan ikan asin, sambal tomat / terasi dan tempe goreng. Nomor dua adalah soto ayam. Selama di Jakarta, saya belum pernah menemukan soto yang enaknya mengalahkan soto Ibu saya. Soto buatan Ibu saya itu sangat pas di lidah saya, pokoknya tiada dua deh. Urutan ke tiga adalah Tumis pepaya, yang saya makan hari ini. Dan selanjutnya sambal terong, tempe orek dan masih banyak lainnya. Ibu saya adalah chef handalan saya, yang sudah kunikmati selama berpuluh-puluh tahun dan rasanya tidak ngebosenin
Saya kurang paham jika untuk cara memasak dan cara membuatnya, yang saya tahu adalah hasil makananya enak. Sudah itu saja bagi saya. Jika disandingkan dengan makanan resto mahal, masakan Ibu saya tak kalah enak. Betapa beruntungnya saya, jika soal makanan sehari-hari sewaktu saya masih tinggal dengan orangtua.
Entah ilmu dari mana Ibu saya mendapatkannya. Yang saya tahu adalah nenek saya dulu adalah penjaja makanan di pagi hari. Kalau di Jakarta atau saat ini semacem nasi uduk. Rame terus, dari saya belum sekolah hingga saya SD jualannya rame dan selalu habis. Mungkin Ibu saya mendapatkan ilmunya dari nenek saya. Kalau tidak salah, ketika saya kelas lima atau enam, Ibu saya jaualan soto. Tapi sekarang sudah tak berjualan lagi.
Memang, masakan tradisional di Indonesia berbagai macam jenisnya. Saya jika bepergian di kota lain selalu mencoba menikmati makanan khas kota itu. Tapi teteup, masakan Ibu saya tetap nomor satu hingga sekarang, tak ada yang menglahkan dan takkan tergantikan. Di masa-masa menganggur seperti ini, adalah kesempatan terbaik bagi saya untuk menikmati makanan Ibu saya dan bercengkrama banyak waktu dengan seorang Ibu. Bukan, bukan karena manja. Tapi selagi  Ayah dan Ibu yang masih ada, bukannya lebih baik kita luangkan waktu buat beliau-beliau ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s