Menikah Muda, Mengapa Tidak?

Menikah Muda, Mengapa Tidak?

menikah mudaKamis kemarin (07 Mei 2015) di daerah Jakarta Timur tepatnya Cipinang, saya kumpul bareng temen sekolah. Kami nongkrong pertama (di sebuah kedai kopi) hanya berempat orang, 3 cowok. Lalu kami hijrah ke angkringan dan dua teman cowo kami datang menyusul. Udah lama juga tak bertemu dengan temen cewek yang satu ini, sebut saja namanya FS. Saya kenal dengan dia sekitar setahun yang lalu. Lama tak mendengar kabar dia, dan pas nongkrong ternyata ia mau nikah. Wakkk?? Nikah?! Selaku teman saya ditanya pendapat, saya hanya senyum dan diam. Saya ditanyain pendapat, “menurut lu nikah di usia muda itu gimana?” sontak saya kaget, saya adalah atau pemuda yang baru menginjak umur kepala dua. Saya kalo ditanya tentang nikah, sungguhlah saya belum bisa menjawabnya dengan jelas dan gamblang. Saat ini saya [niat] fokus bekerja, untuk menghidupi diri saya sendiri beserta kebutuhan saya. Jika ditanya tentang pernikahan, saya hanya berpikiran satu; kelarin sekolah dulu baru nikah. Bahwa, dalam prinsip saya sendiri itu banyak yang mengganggu, tapi dua tahun ini saya jalani.

Memang benar, salah satu faktor penting setelah ikrar ijab qobul adalah hidup ke depannya bersama pasangan. Katakanlah, umur dua puluh tahun sang suami, pun dengan sang istri. Bagaimana bisa menjalani hidup setelah pernikahan itu? Kata FS, “selalu dah, kalo orangtua gua tanyain tentang pernikahan pasti ujung-ujungnya ekonomi” jawaban itu tidak salah. Bisa dikatakan sangat benar. Tapi pertanyaan selanjutnya adalah, kalau sudah mapan lalu akan berjalan lancar gitu pernikahannya? tidak juga, banyak bergelimang harta, tapi kata temen saya malah banyak yang main serong. Kembali ke awal, jadi bagaimana kita bisa menjalani hidup bersama dalam usia muda? Begini, guru saya pernah bercerita bahwa; ini sedikit ilustrasi sih sebenarnya. Si cowo berpenghasilan Rp 3.000.000 tiap bulan dan si cewek menerima gaji Rp 2.600.000. disini saya memberi contoh untuk penghasilan yang tidak besar, angka tersebut standar gaji Jakarta. Jadi gini, si cowok sebelum menikah menghabiskan biaya rata-rata sekitar 2.500.000 / bulan, dan sisanya 500.000,- itu 2,5 juta sudah termasuk biaya makan, kost dan kebutuhan lainnya. Terkadang bisa habis gaji sebulannya tanpa ada sisa dan tak bisa menabung. Kedua, si cewe; dengan penghasilan sebesar itu, cewe bisa menghabiskan setiap bulannya 2 – 2,5 juta. Permasalahannya adalah, jika mereka menikah, akankah bisa menjalani hidup dengan mengikuti zaman (up to date) seperti sebelum menikah? Saya sederhanakan saja;

  • Cowo gaji                         3.000.000
  •           Biaya tiap bulan      2.500.000
  •           Ditabung                    500.000
  • Cewek gaji                        2.600.000
  •          Biaya tiap bulan       2.000.000
  •          Ditabung                     500.000

Maka jika mereka menikah, akan seperti ini :

Pendapatan suami + istri tiap bulan : Rp 5.600.000

Biaya tiap bulan Rp 4.000.000, bahkan bisa kurang dari itu. kenapa saya bisa menyebut angka tersebut? Dan malah berkurang, harusnya kan biaya suami + istri adalah Rp 4.500.000. baiklah saya urai sedikit, beban tempat tinggal atau kost menjadi satu, walaupun akan mencari yang agak besar dikit, tapi biayanya lebih murah, uang pulsa juga akan berkurang, berbeda dengan sewaktu pacaran, kemudian konsumsi makanan juga lebih irit, bukannya menjadi susah setelah nikah, tapi sang istri lebih paham soal makanan sehari-hari dan pasti lebih murah. Jadi pasangan muda ini akan menghemat tiap bulannya sekitar Rp 1.500.000 dan bisa buat mencicil KPR, bener kan?

Tapi jangan terlalu ngegampangin dulu, jika ada biaya tak terdua bagaimana? Ya itu beda masalah, saya membahasnya yang standar saja, beda lagi kalau beli perabotan ini itu. Atau kena musibah, atau apalah-apalah. Seenggaknya dalam setahun duat tahun mungkin baru stabil kehidupan ekonominya dan bisa mengatur masalah financial. Tulisan diatas adalah analisa ngasal saya, bisa saja meleset jauh, orang cuman iseng belaka. Sekian tulisan saya, kalo kebanyakan dikira ahli perencenaan keuangan keluarga lagi.

Jadi, pendapat apa yang tepat tentang nikah muda? “kalo yang siap mental, lakukanlah jangan diunda-tunda, buruan ke KUA!” tapi kalo belum siap, yaudah tunda sebentar siapa tahu calon kalian ditikung temenmu, ahahaah. Kalo untuk saya mah, belakangan lhawong calonnya aja belum ada. Boleh loh adik-adik GMZ jika mau hidup bersama saya, temuin aja di Twitter saya. Tabik!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s