Masakan Indonesia

Masakan Indonesia

“Nasi Rendang” foto dari Instagram @kokigadungan

Beberapa bulan terakhir ini, saya setiap hari sabtu siang selalu makan nasi Padang. Bukan karena apa, sabtu dan minggu saya libur kerja. Dan di rumah kakak saya jarang masak. Maka dari itu, saya kalau libur beli makanan di sekitar rumah saya yang isinya itu-itu saja. Saya tinggal di daerah Pademangan, mencari makan untuk makan siang itu saya terkadang lelah. Di sekitar tempat saya tinggal yang ada ya warteg, mie ayam, masakan padang dan itu-itu saja. Hingga akhirnya, sekira sebulanan yang lalu saya mendapat tempat makan siang yang makanannya enak, dan harga terjangkau. Warung Padang yang di depannya ada papan nama “Cinto Minang” itu sekali saya coba, ternyata masakannya berbeda dengan masakan padang yang lainnya. Bumbunya masuk, dan sambalnya membuat keluar keringat. Di sekitar rumah saya, dan bahkan di Jakarta saya sulit mendapatkan masakan padang yang menurut saya enak.

Saya mengenal masakan padang sebenrnya sih baru-baru ini mungkin sekitar 4  tahunan.  Di sekitar saya tinggal, menu favorit saya adalah sambal kentang dicampur ati. Betapa nikmatnya jika saya makan, apalagi makannya bareng dengan kakak saya dan ponakan. Warung nasi padang di Jakarta itu seperti juga Warteg, setiap sudut terdapat warung padang. Dari yang serba delapan ribu, hingga yang mahal sekalipun. Tapi, untuk mendapatkan masakannya yang enak dan bumbunya ngena banget saya baru mendapatkan 2 tempat, satu di Kemayoran, dan satu deket rumah saya, Pademangan. Mungkin saya kurang banyak mencicipi warung padang yang mahal, tapi apalah arti mahal jika rasanya tidak masuk di lidah saya dan kurang sedap.

Lidah saya adalah lidah anak kampung, jadi jika makan makanan junkfood itu terasa kurang sreg. Ya walaupun doyan, tapi kesannya kurang gimana gitu. Mungkin saya belum siyap menerima makanan di restoran-restoran cepat saji, ya, barangkali saya udik.

Saya lebih suka masakan tradisional. Apalagi jika saya sedang melihat akun instagramnya bang Rahung Nasution, betapa maknyusnya postingan-postingannya yang membuat ngiler dan ingin melahap semuanya hingga habis. Dan ketika melihat postingan itu, keadaan perut sedang lapar, alamakjang! Masakan tradisional kita sebenarnya sangat banyak, harganya pun tidak mahal dan jarang ada yang melestarikannya. Jika generasi muda hari-hari sekarang sangat mendewakan junkfood, dan makanan cepat saji, saya sangat berlawanan arah dengan semua itu, saya cinta makanan tradisional dan saya tepat di belakang bang Rahung yang berjuang dan mengedukasi anak Indonesia betapa lezat dan nikmatnya masakan serta resep dari nenek moyang kita ; Masakan Indonesia. Betapa tidak ngilernya saya jika sedang stalk instagramnya lae Rahung ini, ia memosting setiap gambar disertai dengan cerita masakannya itu sendiri bah!

Jika terdapat sumpah pemuda yang berbunyi

“ Kami poetra dan poetri Indonesia, mengaku bertoempah darah satoe, tanah Indonesia. Kami poetra dan poetri Indonesia, mengaku berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatuan, bahasa Indonesia”

Maka saya akan menyisipkan sedikit begini

“Kami poetra dan poetri Indonesia, mengaku menolak junkfood & fast food, dan cinta masakan Indonesia”.

Gak lucu ya? Biarin yang penting makan, eh Merdeka!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s