Kenangan Kampung Halaman

Kenangan Kampung Halaman

Sabtu pagi hari ini saya bangun pagi-pagi sekali, padahal malamnya saya tidur terlalu larut. Entah darimana atau bingung mau ngapain, akhirnya saya menyalakan laptop lalu mendengarkan lagu-lagu lama atau lagu yang saya sukai ketika saya masih sekolah. Pikiran saya langsung menarik ke belakang 10 tahunan ke belakang, masa-masa bebas saya, masa remaja dan  belum mengenal dunia sesungguhnya.  Ah, jika waktu bisa diputar kembali, saya berharap bisa kembali ke masa-masa itu, bebas, lepas tanpa beban. Sekarang saya, tidak sebebas waktu dulu, belum merdeka dan belum nyaman dengan kehidupan saya sendiri. Masa terbaik seseorang adalah ketika ia bisa merdeka.

Saya jadi kangen dengan kenangan-kenangan ketika saya waktu berumur belasan. Waktu SMP dan SMA. Ketika itu yang ada di pikiran saya hanyalah senang-senang dan senang-senang. Tak ada waktu untuk memikirkan masa depan bahkan belajar agar lulus menjadi yang terbaik di sekolah. Kalau seperti ini, pikiran saya saat ini adalah, menuju ke kampung saya, kangen main bareng dengan teman-teman saya, tiap malam main, judi, kadang minum entah kenakalan apalagi. Pernah suatu kali saya sedang minum bareng teman-teman saya, di samping rumah saya, dan setelah minumnya selesai botolnya saya buang di belakang rumah saya, dan ketahuan Bapak saya, akhirnya saya dimarahain, beberapa harinya saya melakukannya lagi. pernah juga ketika minum, seperminuman berantem. Kenakalan yang menurut saya wajar dan saya sukai. Kadang saya berpikir, kenapa waktu-waktu seperti itu cepat berlalu dan saya tak ikhlas melepaskan waktu-waktu seperti itu teralu cepat. Mungkin masa sekolah adalah masa terbaiknya seseorang. Masa dimana kegilaan dan kenakalan dan percintaan menjadi satu. Tapi, saya orangnya tidak nakal-nakal banget dibandingkan dengan seusiaku, saya standard lah. Saat menulis ini, saya sedang mendengarkan lagu-lagunya Boomerang. Pelangi, ya lagu itu sangat saya sukai dan juga Bungaku.

Saya selama hidup di Jakarta, saya pulang kampung ya hanya ketika lebaran tiba, setahun sekali. Jika waktunya tiba, dan saya berada di kampung, hal-hal yang saya lakukan adalah mengenang dan menikmati suasana kampung saya. Lahir sampai besar, tumbuh dan berkembang di kampung. Walaupun saya saat ini sudah tak tercatat atau dalam KTP  sudah pindah Jakarta, tapi hubungan batin saya kuat dengan kampung kelahiran saya. Saya jika lebaran tiba, saya kembali hidup merasakan beberapa tahun silam. Hidup dengan banyak keluarga, teman lama dan menelusuri tempat-tempat yang sering saya habiskan. Lebaran tahun kemarin saya di kampung hanya sebentar, tak ada seminggu dan saya tak sempat bertemu dengan beberapa teman saya. Saya dari semenjak meninggalkan kampung saya, setiap pulang kampung sebenarnya ingin membuat sebuah film dokumenter tentang kampung saya, jika saya kangen tinggal menontonnya. Tapi setiap saya di kampung, terlalu sibuk dengan kegiatan entah kegiatan apa, akhirnya sampai saat ini, impian kecil saya itu belum terwujud. Lebaran tahun ini, sudah di depan mata, mungkin tahun ini saya bisa membuat karya di kampung saya.

Kadang saya berpikir, saya ingin kembali hidup di kampung dengan kenyamanannya, keramahannya, keasriannya. Tapi saya kepentok dengan satu hal, saya di kampung mau kerja apa? Sedangkan teman-teman seumuran saya sudah merantau di kota yang jauh, ada yang di seberang pulau dan lain lain. Kehidupan terus berjalan, jika saya hidup di kampung dan tidak mempunyai modal dan keahlian, saya akan dilindas oleh waktu. Perlu diketahui, di kampung yang katanya serba murah itu, tak selalu semuanya murah. Di kampung duit Rp 20.000 itu bisa buat makan satu keluarga sehari, tapi nyarinya duit segitu juga susah. Harus menjadi buruh tani seharian juga. Saya adalah anak orang petani, seperti halnya anak lain di kampung saya. Tapi saya sedari kecil tidak diajarkan oleh ayah dan ibu saya caranya bertani. Jadi saya walaupun lahir dan besar dari keluarga petani, tapi tidak tahu tehnik mencangkul, membajak, menananm, memanen padi, jagung, kedelai dan lainnya. Maka, jika saya ingin hidup di kampung, mau jadi apa? Keahlian dasar sebagai petani saja tidak paham. Maka dari itu, saya berharap mendapat hasil di kota dan mendapat ilmu yang banyak. Kelak jika saya tinggal di kampung bisa hidup dengan ilmu saya yang saya ambil dari kota.

Pandangan orang kota terhadap orang desa itu udik, kampungan dan bodoh. Tak selamanya anak kampung itu bodoh dan udik seperti yang Anda bayangkan. Banyak anak kampung yang berhasil menaklukkan kota, dan balik ke kampungnya, pun banyak juga yang tak berhasil. Saya pun ingin menjadi kalimat yang pertama. Memang, pendidikan orang kampung itu mayoritas rendah, tapi tak selalu pendidikan rendah itu bodoh kan?

Saat tulisan ini diketik, lagu sudah berganti ke Slank. Mungkin tak penting bagi anda hehe. Satu hal yang saya rindukan dengan kenangan-kenangan masa remaja ketika sekolah, yaitu kemerdekaan! Mungkin lebaran yang kurang beberapa bulan ini, saya akan berkumpul lagi dengan teman-teman saya, reuni dengan teman sekolah, kampung dan lainnya. Tapi, sayang banyak yang sudah nikah, apakah nanti akan seindah beberapa waktu silam ketika reuni? Entahlah, kuharap kalian masih seperti dulu, tak berubah dan tetap merdeka! Ha!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s