Secangkir Teh

Secangkir Teh

Saya sudah lama tak minum teh yang seduhannya masih benar-benar teh. Maksudnya bukan seperti teh celup yang tinggal celup dan dikasih gula, tapi menyeduh dengan daun dan tangkainya, yang membuat rasanya berbeda dengan teh celup yang saya minum setiap hari. Di Jakarta, jarang sekali kita temukan di perumahan maupun di warung-warung yang menjual teh seperti itu. Pun juga di angkringan atau tempat sejenisnya. Mungkin sang penjual berpikiran bahwa lebih praktis dengan teh celup dan lebih simpel dan gak ada ampasnya. Satu lagi, gak ribet juga kalo diminum.

Hingga beberapa hari yang lalu, tetangga saya punya hajatan, dan memberi bingkisan kepada tetangga-tetangganya. Salah satunya keluarga kakak saya mendapatkan bingkisan itu. Bingkisan dari tetangga saya itu berupa bahan makanan pokok yang masih mentah. Seperti mie instan, gula, kopi dan tentu ada teh juga. Kami mendapatkan Teh yang di bungkusnya bermerk “Teh 999” dalam bungkusan itu, teh tersebut mempunyai slogan “Teh jang paling enak” diproduksi di Surakarta.

Dan weekend ini, saya baru sempat menyeduhnya. Dengan komposisi teh dan gula yang dengan feeling sendiri, jadilah teh manis yang saya nikmati di waktu sore yang berbalut gerimis. Saya seperti berputar jauh ke waktu beberapa tahun silam, 13 tahun yang lalu. Ketika saya masih bersekolah dasar. Di kampung saya, tak ada tuh yang namanya teh celup dan semacamnya. Yang ada adalah teh tjap djenggot dan semacamnya. Pun teh yang diminum oleh kakek saya, segelas gede yang dibikinnya sejak pagi dan biasanya diminum jika tehnya sudah dingin dan gulanya dikasih banyak, itu rasanya sangat maknyess, memikat lidah!. Saya sering menghabiskan teh kakek saya. Berbeda dengan bapak saya yang minum kopi saban hari. Dan ia tak suka dengan teh. Lain kali akan saya ceritakan tentang kopi. Bagi saya, waktu pertama datang di Jakarta, saya merasakan asing pada teh celup. Tapi dengan berjalannya waktu, saya mulai terbiasa minum teh celup dan menjadi asing dengan teh yang saya minum sejak kecil di kampung dulu. Memang, Jakarta bisa merubah apapun. Dari yang baik menjadi jahat, ramah menjadi acuh, tak terkecuali dengan hal minuman yang bernama Teh!

teh 999Di Jakarta juga jika kalian ingin memesan es atau teh harus bilang manis atau tawar. Itu terjadi di semua warteg, angkringan, dan tempat makan yang lainnya. Berbeda dengan di kampung saya, jika sedang membeli makan di warung saya cuma bilang es teh atau teh saja. Itu berarti menjadi kamu memesan es teh manis atau teh manis. Tak berlaku tuh di kampung yang namanya es teh tawar dan teh tawar. Itu juga untuk makanan soto yang dicampur dan dipisah, mie ayam pun juga. Dan masih banyak lagi di Jakarta yang seperti ini.

Hampir lima tahun saya hidup di Jakarta dan belum menemukan di tempat makan yang menyajikan teh yang bukan celup. Apakah kalian merasakan seperti saya? Ataukah saya sendiri yang merasakan seperti ini? Entahlah. Intinya, minum teh adalah salah satu kegiatan saya jika sedang bosen dengan kopi. Saya sih tetap cofee addict. Teh adalah pelengkap saja dan saya aplikasikan jikalau makan di warung. Iya, di Jakarta sebagian besar penjaja makanan menjual teh tawar itu dengan gratis. Jika kalian beli makan dan pesan teh tawar, maka oleh penjualnya teh tawar tersebut tak ikut dihitung. Kalaupun sebagian kecil ada yang mematok harga teh tawar hangat, itu kebanyakan harganya Rp 1.000,-

Saya tak paham dengan jenis-jenis teh. Pun untuk saat ini saya juga belum tertarik untuk mencari tahunya. Saya sedang tak menjadi buzzer teh lho. Dan saya tak dibayar sepeserpun oleh merk teh yang saya sebutkan di atas.

Tulisan ini juga bisa dibaca di Jagongan.org

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s