Duta Angkringan di kota Jakarta

Duta Angkringan di kota Jakarta

Saya sebagai pendatang atau perantau di Jakarta, merasa sangat aneh pertama kali hidup di kota yang fasis ini! Hiruk-pikuk kehidupannya sangat berbeda dengan kehidupan saya di kampung. Sangat kontras dengan hidup di kampung. Di kampung saya itu yang saya rasakan ayem-tentrem, guyub-rukun dan aman tak seperti di Metropolitan ini, kamu bisa saja dirampok, dibunuh, dirampas hak-hak hidupmu kapanpun jika kamu tak waspada dan berhati-hati. Kota yang mayoritas pendatang merasakan penuh kebencian sekaligus kecintaan terhadap segala isinya. Kota yang tak henti-hentinya klakson mobil dan motor bersahutan, kota dimana taat dan patuh peraturan lalu-lintas hanya impian dan taat jika ada polisi lalulintas jaga doang. Kota yang mungkin dibenci juga oleh warga aslinya. Kota campur aduk tak terhindarkan!

Kehidupan malampun tak kalah bising dengan kehidupan siang hari. Di sepanjang jalan Berjejer cafe, pedagang kali-lima, diskotik yang menawarkan-surga-dunia-sesaat dan tentu angkringan khas Jogjakarta dan tetek-bengek lainnya.
Sebagai pendatang, dan orang Jawa, saya tentunya tak asing lagi dengan Angkringan! Ya, di Jakarta pun tak ketinggalan berdirinya warung angkringan. Warung angkringan yang semakin tahun terus memapakkan-sayapnya di sudut-sudut atau pun tengah kota, melawan tempat nongkrong anak muda masa kini yang menu-menunya penuh bahasa inggris dan saya tak begitu paham dengan menu masakan dan minumannya, maksud saya seperti, Starbucks, 7-Eleven, dan cafe yang menjual khas makanan a la barat dan lain sebagainya. Angkringan adalah sebuah tempat melepas lelah para masyarakat setelah bekerja seharian melawan ganasnya pekerjaan yang membuat stress, angkringan adalah tempat dimana obrolan kecil tentang apa saja dan remeh temeh, angkringan adalah tempat dimana kelas bawah berkumpul sambil ngopi dan ngerokok menghabiskan malam sampai larut. Angkringan adalah potret tempat tongkrongan yang bisa dibilang avaibel untuk semua kalangan yang mau mampir (jika kelas-menengah-ngehe dan kelas-atas mau)

Saya dulu, mungkin dua tahunan yang lalu, mencari-cari tempat angkringan yang enak untuk nongkrong dan masakannya yang enak, serta menunya yang lengkap dan tentu, yang jarang pengamennya yang tiap lima menit berdatangan. Sekitaran Jakarta Pusat hampir semua saya telusuri, pun saya belum menemukan tempat yang pas dan cocok untuk nongkrong. Tapi, 4 bulan terakhir ini saya menemukan tempat angkringan yang lumayan enak dan cocok untuk nongkrong mengabiskan malam bersama teman-teman.

Nasi Kucing, Paru, dan Telor Puyuh
Nasi Kucing, Paru, dan Telor Puyuh

Terus, dimana Duta angkringannya?
Baiklah, saya akan cerita sedikit tentang teman saya. Saya punya teman tak hanya dari suku Jawa saja, Sunda, Betawi, Minang dan lainnya. Jika kami berkumpul dan nongkrong, tak akan jauh lagi kalo gak di restoran cepat saji yang harganya lumayan ehm, menguras dompet dan bahkan nongkrong di tempat anak SMP-SMA (7-Eleven). Akhir-akhir ini, saya mengajak teman-teman saya untuk nongkrong di angkringan, yang kata temen saya, Jawa banget ini! Dan mereka(temen-temen saya) ini kecanduan untuk nongkrong di angkringan yang begitu nyaman ini, dan tentu murah meriah di kalangan kami. Teman saya ini mahasiswa sekaligus pekerja, makanya ya masih memikirkan kantong untuk urusan perut. Bukan seperti hipster-hipster kelas menengah-ngehe yang jajan atau nongkrong di cafe mahal dengan merengek ke orangtua mereka, prekk!

Tiap minggu sekali, kita habiskan dengan nongkrong di angkringan. Dan saya merasa bangga menjadi buzzer angkringan. Hahaha

Kelak, saya kalau ada dana mau mendirikan sebuah tempat usaha semacam palugada(apa yang lu minta gua ada), maksudnya akan mendirikan Distro, Angkringan, dan live music band-band indie yang mengiringinya dipenuhi dengan free-wifi dan tak lupa, dalam angkringan itu saya tambahkan dengan menu macam-macam kopi dari seluruh pelosok negeri ini.
Semoga menjadi nyata dan berkah buat saya!

Terimakasih teman-teman saya, Tesa, Ambonk, Henny, Shella, Fina dan anak Azzahra lainnya!

NB : Tulisan ini sebagian saya tulis di Angkringan Bungur, Jakarta Pusat. Dan saya di-bully temen-temen saya kerna sibuk dengan gadjet saya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s