Cerita Sederhana tentang Jakarta

Dulu ketika aku masih kanak-kanak di belakang rumahku terdapat hutan, berbagai pohon tumbuh di sana. dari pohon Jati, Mahoni dan banyak lagi. ketika duduk di bangku sekolah dasar guruku pernah berkata, “jagalah pepohonan di sekitar rumahmu, jangan menebang hutan sembarangan nanti akibatnya banjir”. kalimat itu masih ingat jelas di kepalaku. kalimat yang sederhana namun sangat berguna bagi kehidupan kita di masa depan. mungkin aku dulu bodoamat dengan perkataan seperti itu. tapi setelah 10 tahun aku beranjak dari sekolah dasar itu, aku baru sadar betapa pentingnya pohon bagi kehidupan manusia sekarang dan anak cucu kita.

Saat ini, aku bertahan hidup di kota yang katanya segala macam yang kamu cari ada, Jakarta namanya. Ketika musim hujan datang, kota ini selalu dihantui apa yang dinamakan dengan banjir. mungkin sudah tak kaget dengan bencana tahunan ini bagi warga Jakarta itu sendiri. Dan setiap banjir menghinggapi kota ini, yang ada di pikiranku hanyalah kenapa sampai separah ini banjirnya. katanya Ibukota negara, kok hujan sebentar saja banjir datang dan itu berulang-ulang setiap tahunnya.

Bicara tentang banjir, aku ingat perkataan guruku di atas. dan memang, di kota ini pepohonan atau hutan kota sangat jarang yang idealnya 10 % dari luas wilayah itu sendiri. bukan faktor itu saja sih, perilaku warga yang membuang sampah sembarangan tak mengenal tempat dan waktu adalah pemicu yang sangat menyumbang terjadinya banjir. Entah berapa ribu ton sampah yang dihasilkan setiap harinya di kota ini. tata ruang kota yang acakadut menambah ruetnya kota ini. Banjir datang setiap tahunnya tak bisa dihindari dan selalu menghantui warga kota. Warga Jakarta sangat jauh hidup dengan alam, pohon, capung, kupu-kupu dan binatang indah lainnya.

kembali ke desaku yang asri nan hijau. betapa berbedanya kampungku dengan kota Jakarta. Udara yang masih segar, mata memandang luas kanan-kiri masih pepohonan yang hijau berbalik dengan di sini, gedung-gedung menjulang tinggi dan bau asap kenalpot yang sangat pekat di rongga hidung. Sunyi, sepi dan dingin yang membuat nyaman, berbeda dengan di sini yang bising oleh suara kendaraan bermotor dan suara tempat-tempat hiburan malam yang semakin menjamur dan tak terkendali. Betapa sangat mirisnya mendengar kota ini, kota di mana para pendatang dari sudut-sudut desa berdatangan dan terus meningkat setiap tahunnya. kota di mana sarangnya para koruptor. Bisa disebut dengan kota surga dan neraka. Aku sangat dan sangat ingin di kota ini banyak taman agar bisa melewati kehidupan sehari-harinya lebih asri dan lebih panjang umur.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s