Surat Kecil

Surat Kecil (dalam kenangan)

Perkenalkan namaku Robit Mikrojul Huda tinggal di Jakarta dan saat ini sedang menganggur. Ini cerita sedikit tentang masa kecilku, masa Sekolah Dasar.

Di saat umurku masih kecil, tentu aku belum mengenal apa itu “cinta” dan apa itu “pacaran”.Seperti apa wujudnya dan bisa dimakan apa tidak cinta itu? (pikirku). Mendengar kata itupun jarang, apalagi tahu maknanya. Waktu itu aku kelas enam sekolah dasar, sedikit demi sedikit tahu tentang cinta, itu menurut pemikiranku.

Aku suka / seneng dengan teman sekelas pada waktu itu, apakah itu yang dinamakan “cinta” ? kata orang-orang sih itu namanya “Cinta Monyet” dan aku semakin bingung lagi. Cinta saja tak paham apalagi dengan Cinta Monyet, entahlah aku tak mau pusing dengan dua macam itu.

Saat bertemu cewek yang aku suka itu, aku tak sanggup memandangnya. Perasaan campur aduk seperti bertemu dengan kepala sekolahku yang galak, melihatpun aku malu-malu dan jantungku deg-degan. Apalagi ditambah sorakan dari teman-temanku, muka merah, mau menggerakkan bibir saja rasanya berat, padahal kalau bertemu dengantemanku selain dia aku biasa saja.

Aku juga tak berani ngobrol dengannya, memandang saja gugup. Entah waktu itu siapa yang lebih awal mengirim surat (benar-benar surat tulisan tangan), tidak seperti anak jaman sekarang tinggal ngetik gadgetnya (SMS,BBM,Email dll) beberapa menit kemudian dapat balasan, bahkan bisa beberapa detik. Aku dan dia berani ngobrolnya lewat surat. Mendapat sebuah surat bagiku mendapatkan sebuah kebahagiaan tersendiri. Walaupun surat itu balasannya bisa berhari-hari,sampai seminggu lebih. Tapi dalam waktu menunggu surat itu, rasa penasaran itu yang membuatku ketagihan dalam surat menyurat. Surat itu juga aku simpan. Ada yang tak kulupakan dari isi suratnya, pada bagian akhir surat itu bertuliskan :
“ empat kali empat samadengan enambelas, sempat tidak sempat wajib dibalas”

Kalau isi surat dengan rinci aku sudah lupa.
Setiap kali menerima surat aku bingung membalasnya bagaimana, bingung merangkai kata. Aku juga minta bantuan temanku untuk menulisnya.

Masalah kertas juga beda dengan kertas dari buku tulis pada umumnya, kertasnya di bagian backgroundnya bergambar bunga, kertasnya juga berwarna. Semakin lama “bermain” dengan surat menyurat, Akupun semakin berani memandang dia kala ketemu, berani melempar senyum ke dia, dan diapun membalas senyuman itu. Hatiku sangat berbunga-bunga. Apakah itu yang dinamakan jatuh cinta? Pacaran? atau apalah, aku tak mengerti. Dalam hatiku yang ada senang. Kadang setiap malam aku kembali membaca surat itu satu-persatu, dengan pelan dan sembunyi-bunyi. Kami berhenti “bermain” surat menyurat itu ketika sudah lulus dari Sekolah Dasar.

Entah sekarang surat itu di mana keberadaannya, apakah sudah hancur kehujanan atau terbakar di dapur buat masak Ibuku? Entahlah. Aku ingin melihat surat itu kembali biar bisa mengenang masa kecil yang indah itu. Apakah dia juga ingat tentang “Surat Cinta” di jaman yang usang itu? Apakah surat yang aku kasih ke dia masih tersimpan dengan rapi di kamar/lemarinya?

***

Tak terasa sekarang umurku dua puluh tahun. Cinta yang ku lalui saat ini berwarna bukan seperti saat kelas enam yang lalu. sebenarnya masih banyak kisah-kisah waktu kecilku. Mungkin di lain waktu aku bisa menulisnya.

oleh Robit Mikrojul Huda
Follow My Twitter @RobitMH
Jakarta, 22 Januari 2013

Advertisements

2 thoughts on “Surat Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s