Duapuluh

Duapuluh tahun perjalananku

Angka yang menunjukkan berpindahnya usia dari masa remaja menuju dewasa. Tak terasa aku menapaki kehidupan yang consumerisme ini sudah duapuluh tahun lamanya. Waktu yang panjang bagi kehidupanku. Banyak cerita yang ku lalui dengan rasa pahit dan manis. Ingin rasanya memutar waktu untuk kembali ke waktu Sekolah Dasar yang setiap hari ceria, riang tanpa memikirkan masa depan.

Kenangan puluhan tahun lalu menjadi sebuah cerita yang manis. Tertawa sendiri ketika ku ingat jaman kecil, betapa indahnya yang ku rasakan. Aku dilahirkan dari keluarga yang biasa-biasa saja, dilahirkan dari rahim Ibuku yang sekarang sering ku bentak tanpa alasan. Dasar tak tahu terimakasih anakmu ini Buk! Lahir dari keluarga miskin di desaku (hampir semua kehidupan ekonominya sama seperti orangtuaku). 22 Januari 1993 aku dilahirkan ke bumi dengan nama Robit Mikrojul Huda, anak ketiga dari tiga bersaudara. Kakakku perempuan semua.

Robit kecil di sekitar rumahnya dikenalsangat manja kepada Ibu maupun Bapaknya. Masih ingat, ketika pertama aku bersekolah di Sekolah Dasar ( di desaku jarang yang sekolah TK) Aku diantar jemput oleh Ibuku dengan sepeda motor kesayangan kami. Entah agak lupa aku dengan sepeda motorku apa namanya.

Ibuku adalah wanita yang hebat, berdagang adalah pekerjaannya. Sampai sekarang masih berdagang, tapi setahun terakhir ini tidak dagang karena pertengahan bulan Desmber 2011 Ibuku kecelakaan dari sepeda motor. Sekarang Ibuku sakit di rumah. Sudah berpindah-pindah dokter juga tak menyembuhkan sakit yang diderita Ibuku secara total. Hampir Dokter-dokter di kampungku sudah disambangi, bahkan agustus sampai November 2012 beliau berobat di sini di tempatku (Jakarta). Sekarang beliau sedang berobat di kampung, dan semoga lekas sembuh.

***

Robit kecil kala Sekolah Dasar di kelas empat dan lima mendapat peringkat 3 di kelasnya. Ia juga terlibat untuk mewakili lomba “Cerdas Cermat” dari sekolahnya. Bersama dua orang temannya, Robit kecil mengikuti lomba pada tingkat kelurahan, mereka (Robit dan dua orang temannya) mendapatkan juara tiga. Naik lagi ke tingkat kecamatan Robit dan temannya tak beruntung dan kalah dalam lomba itu.

Di kala sekolah Menengah Pertama (SMP) Robit orangnya pendiam dan tak banyak dikenal dalam sekolahnya. Pun juga tak menonjol dalam nilai pelajarannya, biasa saja. Perjalanan cinta? Hmmm, mungkin masih dini bicara soal cinta.

Tiga tahun di SMP terlewati, kemudian kakiku menginjakkan ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Rumah dari sekolahku lumayan jauh, jaraknya sekitar 33 KM. kala itu aku mengambil jurusan Kelistrikan, di Masa Orientasi Sekolah (MOS) aku pindah jurusan ke Teknik Otomotif. Murid di kelasku semuanya laki, maklum SMK. Di sini aku terlihat beda dari kebanyakan siswa baru yang ada di kelas. Dengan penampilan rambut yang acak-acakan, celana pensil (mengerucut ke bawah) aku menjadi lain di kelasku.
Kelas satu aku kost, karena lelah tiap berangkat dan pulang naik sepeda motor yang jaraknya lumayan jauh. Waktu itu aku masuk siang, karena sekolahnya tak muat jika semua siswa masuk di pagi hari.

Aku kost tak terlalu lama, hanya sekitar tiga bulan. Saat itu perjalanan cintaku bermulai dari pe-ngekost-an itu. (tak perlu dikisahkan ya tentang cinta). Setelah tidak kost, aku sering tak masuk sekolah, dunia bandelku mulai tercipta. Masuk dalam dunia baru, suka dengan musik Punk maupun menjalani kehidupan sebagai Punker. Dalam kelasku masih jarang yang suka seperti itu (Punk), kebanyakan ya seperti remaja-remaja saat ini. You know lah apa yang ku maksud. Hidup beda membuatku lebih menyenangkan, yang melawan mainstream hehe (tapi kehidupan Punk, tak seburuk apa yang kalian lihat loh)

Berlanjut ke kelas dua aku semakin bertambahlah bolosnya (bolos sekolah tak ada hubungannya dengan Punk!). Di sekolah aku sering dicari oleh guru-guru karena celanaku yang beda dengan teman-temanku. Setiap upacara sekolah aku jarang ikut ( karena takut celanaku digunting oleh guru). Hal ini yang membuatku menarik.

Suatu ketika, aku terlambat masuk sekolah, aku dihukum dan celanaku digunting ke atas hingga sampai paha, sangat malunya diriku. Memang, di sekolahku tidak diperbolehkan memakai celana yang macam-macam (aneh-aneh). Tapi kalau di kota waktu itu sudah umum (celananya). Setelah dipotong, keesokan harinya aku semakin “melawan” guruku dengan celana yang lebih kecil di bagian bawah, setiap hari aku kucing-kucingan dengan guruku. Kelas dua pula nilai sekolahku hancur, mungkin karena banyak guru yang membenciku dan sering tidak masuk sekolah. Di waktu penerimaan raport aku mendapatkan nilai yang membuat orangtuaku sedikit marah. Dalam raport itu tertulis aku mendapat peringkat 40 dari 43 siswa di kelas. Aku juga tak percaya dengan peringkat itu sampai sekarang.

Kelas tiga aku biasa-biasa saja, seperti di kelas dua. Tak bisa merubah kelakuanku padahal sebentar lagi kelulusan sekolah. Membuka buku di rumahpun jarang, apalagi belajar berjam-jam sampai ketiduran seperti anak sekolah yang lainnya. Pekerjaan Rumah (PR) tak pernah ku kerjakan. Hampir komplitlah.
Ujian akhir sekolah sebentar lagi tiba, aku gugup dan tegang karena bagaimana nanti aku mengerjakan soal-soal. Aku juga ingat, ketika minta doa ke Vokalis Sosial Sosial (Band Punk) via Twitter (kamu masih ingat tak bang? Hehe). – Tapi berkat doa dan “usaha” akhirnya aku lulus dengan nilai yang menurutku pantas.

***

Dunia sesungguhnya ada di depanku, kehidupan yang mandiri tak meminta kepada orangtua. Kehidupan yang senyata-nyatanya. Setelah beberapa minggu aku lulus sekolah, aku menyusul kakakku yang ada di Jakarta. Seminggu aku nganggur di Jakarta, kerja pertamaku adalah dalam dunia marketing, aku menjadi sales/penjual motor Yamaha di sebuah dealer di Jakarta Pusat. Belum ada pengalaman samasekali dalam dunia jual menjual membuatku tak betah dengan pekerjaan ini. tapi yang aku dapat dalam pekerjaanku ini adalah sedikit mengerti tentang jalanan Jakarta. Karena setiap hari aku kerjanya di lapangan (jalanan). 4 bulan aku bekerja menjadi sales sepeda motor. Setelah itu aku bekerja di tempat yang sama tapi di bagian bengkel. Bekerja di bagian sparepart counter merangkap admin selama satu tahun. Setelah tidak bekerja di Dealer itu aku pulang kampung selama sebulan.

Saat ini aku sedang nganggur, untuk menyibukkan kegiatanku, aku mengikuti kursus bahasa Inggris di Kemayoran di EEC (Easy English Centre). Tapi sampai sekarang aku tak bisa berbahasa Inggris dengan baik, apalagi lancar dan benar. Tepat di hari ulangtahunku yang ke duapuluh, aku sedang mengikuti pelatihan (Training) di tempat kerjanya Vox.Sosial Sosial.

Entah kenapa aku bingung dengan hidupku. Ingin sekali keluar dari kehidupan yang memuakkan ini.

Catatan:
– SDN Kayut Rejo ll (1999-2005)
– SLTPN 2 Widodaren (2005-2008)
– SMK PGRI 1 Ngawi (2008-2011)
– EEC (Easy English Centre) (2012 – sekarang)

oleh Robit Mikrojul Huda

Jakarta, 22 Januari 2013

Advertisements

2 thoughts on “Duapuluh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s